Skip to main content

Belajar dari Kota Minamata

Minamata, sebuah kota kecil yang membawa saya kembali pada ingatan masa lalu ketika mengenyam pendidikan sekolah dasar. 

Kota Minamata adalah sebuah kota kecil di pesisir barat Pulau Kyushu, kota ini masih termasuk wilayah Kumamoto Prefecture. Berjarak sekitar 88 km dari Kota Kumamoto, saya tidak pernah merencanakan untuk berkunjung ke kota kecil ini pada "liburan" singkat saya di Jepang. Bahkan, saya baru merencanakan perjalanan ini satu hari sebelumnya akibat dari penundaan acara ke Mount Aso (salah satu wisata alam terbaik di Kumamoto, bahkan di Jepang) dikarenakan cuaca buruk musim dingin. Saya sebenarnya lebih merencanakan untuk mengunjungi Kota Hiroshima atau Kota Nagasaki karena merujuk pada nilai historisnya yang merupakan saksi ganasnya bom nuklir di perang dunia kedua, namun akhirnya batal karena beberapa hal tak terduga. Kota Minamata sebenarnya dapat saya capai hanya dalam hitungan menit menggunakan Shinkansen (bullet train atau jalur kereta api cepat Jepang), dari Stasiun Kumamoto ke Stasiun Shin-Minamata. Tapi, saya lebih memilih menikmati perjalanan dengan kereta JR Kyushu Kagoshima Main Line dari Stasiun Kumamoto menuju Stasiun Yatsushiro dan berganti kereta Hisatsu Orange Railway Line hingga Stasiun Minamata.

 
 

Saya pertama kali mengenal Minamata ketika duduk dibangku sekolah dasar, ketika itu saya membaca tentang penyakit Minamata atau Minamata disease. Tak pernah terbayang kala itu jika hampir 10 tahun setelahnya saya bisa berkunjung dan mengenal lebih dekat Kota Minamata dan tragedi besar didalamnya. Bahkan, saya mengetahui lebih dalam terkait Minamata disease ketika mengambil mata ajar Teratologi (cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang malformasi pada embrio) di semester 6 saat menempuh studi sarjana. 

Kota Minamata begitu terkenal ke seluruh penjuru dunia akibat dari bencana kontaminasi perairan oleh logam berat. Kisah tragis ini berawal dari sebuah perusahaan besar bernama Chisso Co. Ltd. yang membuang limbah mengandung methylmercury (MeHg) ke perairan di Teluk Minamata selama puluhan tahun tanpa tahu efek samping yang akan ditimbulkannya. Pada awalnya, tidak ada masalah yang tampak serius pada warga Minamata, lalu muncul tanda dengan adanya kucing-kucing di daerah itu yang mengalami kejang, kelumpuhan, bahkan hingga mati tanpa sebab. Perlahan tapi pasti, efek pada manusia mulai terasa. Ribuan warga Minamata menjadi korban, penyakit ini menyerang otak dan sistem saraf. Gejalanya seperti kejang otot, gangguan penglihatan, pendengaran, dan berbicara. Bahkan hingga menyebabkan kelumpuhan, gangguan jiwa, hingga kematian. Pada ibu hamil juga mengakibatkan kecacatan janin, penurunan tingkat kecerdasan, keguguran, dan kematian bayi didalam kandungan. Penemuan tim riset dari Kumamoto University School of Medicine saat itu akhirnya menyimpulkan bahwa penyakit ini diakibatkan oleh limbah logam berat. Chisso Co. Ltd. digugat dan dikenakan denda untuk penanggulangan atas limbah mereka, namun semuanya tidak berjalan mulus, banyak pro dan kontra yang terjadi selama puluhan tahun setelah penemuan tersebut. Kegemaran orang-orang Jepang untuk menyantap hasil laut adalah salah satu rangkaian penting dalam bencana ini, bioakumulasi logam berat merkuri pada ikan-ikan laut, kerang, dan jenis-jenis hewan laut lainnya jauh melebihi standar yang aman. Baca lebih detail fakta-fakta riset terkait hal tersebut pada jurnal review yang ditulis oleh Masazumi Harada dari Institute for Medical Genetics Kumamoto University tahun 1995 dengan judul Minamata Disease: Methylmercury Poisoning in Japan Caused by Environmental Pollution dan terbit di Critical Reviews in Toxicology, 25:1, 1-24.

 
 
Kembali ke topik awal, di Kota Minamata saya mengunjungi Eco Park Minamata, Chikurinen Bamboo Park (terdapat ratusan spesies bambu), Minamata Disease Municipal Museum, Minamata Memorial, dan National Institute for Minamata Disease. Saya benar-benar menikmati berjalan kaki di kota kecil ini, tak terasa hingga lebih dari 10 km saya berjalan dari satu tempat tujuan ke tujuan yang lain dengan ditemani oleh hujan rintik-rintik dan dinginnya suhu musim dingin. Seaside Park Minamata yang merupakan bagian dari Eco Park Minamata adalah salah satu tempat terbaik untuk menikmati Teluk Minamata. Di museum dan Minamata Memorial, saya sangat merasakan betapa tragis dan menyedihkan kondisi korban-korban Minamata disease saat itu. Selain itu, National Institute for Minamata Disease menjadi pusat kajian tentang dampak-dampak dari aktivitas industri terhadap lingkungan. Tanpa sengaja, ditempat tersebut saya menemukan catatan tentang beberapa kejadian di Indonesia, seperti sungai yang terkontaminasi merkuri oleh aktivitas pertambangan emas di Bogor, Jawa Barat. 

 
 
 
 
 
Kini, Kota Minamata telah berubah dan berbenah. Kota ini menjadi salah satu kota ramah lingkungan dan memperoleh sertifikasi ISO 14001 untuk manajemen lingkungan. Puncaknya, pada tahun 2001 lalu, kota ini resmi sebagai Japanese Eco-Town dan mendapatkan penghargaan Japanese Top Eco-City di tahun 2004 dan 2005. Konsep Minamata Eco-Town sudah dimulai sejak tahun 1992, target terkini kota ini adalah mengurangi gas rumah kaca sebesar 32% pada tahun 2020 dan sebesar 50% pada tahun 2050 dibandingkan tahun 2005. Ada empat wilayah sasaran utama untuk mencapai target tersebut, yaitu kegiatan untuk hidup ramah lingkungan, pengembangan industri ramah lingkungan, pengembangan konsep eco-town, dan pengembangan kota untuk pembelajaran terkait lingkungan. Menurut saya, sepertinya bukanlah Jepang jika tidak berbenah setelah terjatuh dan terpuruk. Lihat saja contoh lainnya, bagaimana mereka bangkit setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur oleh serangan bom atom pada perang dunia kedua. Indonesia seharusnya bisa mengikuti jejak Kota Minamata, regulasi-regulasi yang dibuat harus dipatuhi dan menindak tegas industri atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan di negara ini. 

What kind of future do you want to create?

Comments

Post a Comment

Thank you!

Popular posts from this blog

Belajar dari Keluarga Kekaisaran Jepang

Kali ini saya akan mengulas fakta unik terkait anggota keluarga kekaisaran Jepang.

What is a Vacuum Headache?

When taking part in any activity involving a change in altitude, you will need to take precautions to prevent vacuum headaches. Whether you are flying or diving, a vacuum headache can quickly turn an enjoyable vacation or trip into a painful experience.

Sebuah Kontemplasi Dibalik Mitokondria

Sebuah pepatah mengungkapkan bahwa kasih ibu adalah sepanjang masa. Bagaimana pembuktian ilmiahnya?
Mitokondria (sering dijuluki the power house of cell) adalah salah satu organel sel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel makhluk hidup, selain fungsi seluler lain seperti metabolisme asam lemak, biosintesis pirimidin, homeostasis kalsium, transduksi sinyal seluler, dan penghasil energi berupa adenosin trifosfat (ATP) pada katabolisme. Setiap sel memiliki hingga ratusan mitokondria. Organel sel ini memiliki keunikan karena dapat melakukan replikasi sendiri (self replicating) seperti sel bakteri.
Mitokondria memiliki DNA tersendiri, yang dikenal sebagai mtDNA (mitochondrial DNA). DNA mitokondria manusia berukuran 16.569 pasang basa, terdapat dalam matriks mitokondria, berbentuk sirkuler, memiliki untai ganda [terdiri dari untai heavy (H) dan light (L)], dan tidak terlindungi membran. Ukuran DNA mitokondria pada masing-masing makhluk hidup beraneka ragam, misalnya green monkey me…