Skip to main content

What is a Vacuum Headache?



When taking part in any activity involving a change in altitude, you will need to take precautions to prevent vacuum headaches. Whether you are flying or diving, a vacuum headache can quickly turn an enjoyable vacation or trip into a painful experience.


Description
A vacuum headache occurs when a change in pressure coincides with a stuffed up nose. Vacuum headaches cause the frontal sinuses to close up causing a vacuum effect throughout the rest of the sinus cavity resulting in a great deal of pain.

Symptoms
Symptoms of vacuum headaches include sinus pain, pressure around the eyes and the feeling of a weight being placed on the forehead. Vacuum headaches are also commonly accompanied by a throbbing pain through the temples and sinus cavities, especially the frontal sinuses.

Cause
Most commonly, vacuum headaches occur through a mixture of altitude change and nasal congestion, especially during air travel. Whether the nose is plugged from sickness or from dehydration and the dry air of the plane's cabin, this creates the right conditions for a vacuum headache. As the nose clogs up, the sinuses begin to take on oxygen causing a pressure change. As the plane begins to ascend or descend, the change in pressure can create a vacuum inside the sinus cavity. This creates a feeling of pain and weight on the face, especially around the eyes, until the pressure has been stabilized, or the nose has become unplugged. Sometimes, the pain can continue even after the pressure outside has been stabilized. In these cases, you will need to seek further treatment from your doctor.

Treatment
The most common treatment for vacuum headaches are decongestants, such as Sudafed. If the vacuum headache is sever enough, however, a doctor may also administer a cortisone injection to help open the nose and sinus cavities. Once the nose and sinuses are open again, the pressure releases, causing the headache to subside.

Prevention
The best way to prevent vacuum headaches is to take the proper precautions to keep your nose clear during altitude-changing activities, such as flying or scuba diving. You can do this either through medication or through ensuring you are getting enough fluids before flying or diving.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Kontemplasi Dibalik Mitokondria

Sebuah pepatah mengungkapkan bahwa kasih ibu adalah sepanjang masa. Bagaimana pembuktian ilmiahnya?
Mitokondria (sering dijuluki the power house of cell) adalah salah satu organel sel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel makhluk hidup, selain fungsi seluler lain seperti metabolisme asam lemak, biosintesis pirimidin, homeostasis kalsium, transduksi sinyal seluler, dan penghasil energi berupa adenosin trifosfat (ATP) pada katabolisme. Setiap sel memiliki hingga ratusan mitokondria. Organel sel ini memiliki keunikan karena dapat melakukan replikasi sendiri (self replicating) seperti sel bakteri.
Mitokondria memiliki DNA tersendiri, yang dikenal sebagai mtDNA (mitochondrial DNA). DNA mitokondria manusia berukuran 16.569 pasang basa, terdapat dalam matriks mitokondria, berbentuk sirkuler, memiliki untai ganda [terdiri dari untai heavy (H) dan light (L)], dan tidak terlindungi membran. Ukuran DNA mitokondria pada masing-masing makhluk hidup beraneka ragam, misalnya green monkey me…

Pengawet Mayat untuk Pengawet Makanan!!!

Memasuki kamar mayat dirumah sakit mana pun adalah sama. Begitu masuk, bukan tercium bau mayat yang mungkin sudah membusuk, tetapi bau senyawa pengawet yang menyengat dapat mengeluarkan air mata dan kemungkinan besar bagi yang tak biasa atau bau menciumnya akan meyebabkan muntah-muntah. Dengan demikian, tidak aneh para petugas terkait memakai masker, yang menutupi hidung dan mulutnya.

Inilah formalin, senyawa kimia yang lebih umum dikenal sebagai pengawet mayat di kamar mayat sebelum dibawah oleh keluarganya. Akan tetapi sekarang, mengapa ada pengusaha atau pedagang yang tega menggunakan formalin (senyawa pengawet) tersebut, bukan untuk pengawet mayat tetapi justru untuk pengawet makanan???

Dari data dan informasi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Departemen Kesehatan yang beredar/sudah disiarkan oleh beberapa media masa, tercatat lebih dari 80% (86,2%) mie basah yang banyak dijual dipasar, toko swalayan ataupun sudah menjadi bahan utama di tukang mi kocok, tukang bakso, atau s…